Kisah Uang Seribuan
Bagi anda yang aktif berselancar di dunia maya baik melalui warnet, komputer pribadi, atau ponsel rasanya pernah membaca postingan yang berupa dialog antara dua karakter. Metafora tersebut merupakan dialog antara pecahan uang seribu rupiah dengan seratus ribu rupiah. Di tahun 2011 ini, pecahan seribu adalah lembaran uang kertas terkecil dan seratus ribu adalah sebaliknya, yang terbesar.
Dan, uang seribu rupiah hanya senilai roti sebesar genggaman orang dewasa dan tidak terlalu mengenyangkan untuk mengganjal perut. Dan, uang seratus ribu rupiah cukup untuk makan secara wajar sejumlah 10 porsi ala restoran A&W alias ala warteg.
Sabar-Syukur
Ajaib!
Sidang pembaca yang dirahmati Allah, anda yang sedang dirundung bergunung masalah, anda yang sedang ditimpa berkali derita, anda yang sedang berkubung dalam lubang gelisah yang membuat anda lemah, lelah, goyah dan seakan hilang arah. Mungkin menyalahkan masa lalu, mungkin menyalahkan Allah, astaghfirullah.
Mungkin juga anda, sidang pembaca yang dirahmati Allah. Sedang bersuka, bergunung cerita suka, berkali senang menjejali waktu tanpa henti. Lalu anda puas, lalu anda menjadi riang tak terkira.
Dan biarlah kita berhenti sejenak untuk merenung.
Merenung untuk semuanya, untuk kedukaan kita. Untuk kesenangan kita. Read more…
Kontribusi
Saya bukan orang yang pandai menulis tentunya. Walaupun dulu ketika sekolah di SMA MTA sempat ikut mengurusi majalah yang kalau sidang pembaca ingat bertajuk GEMA itu. Tapi saya jarang menulis di sana, ya, saya jarang menulis di sana. Saya lebih banyak mengumpulkan materi dari teman-teman yang lain untuk dirangkum dalam sebuah sampul bertajuk GEMA.
Saya juga bukan orang yang gemar membaca sejujurnya. Tapi banyak hal yang terjadi hingga sekarang telah memaksa saya untuk lebih banyak membaca dan lebih banyak membaca lagi.
Saya masih ingat kata seorang tokoh, bahwa kita dengan lima tahun yang akan datang adalah sama kecuali dengan buku dan orang-orang di sekitar kita.
Dan nyatanya menulis sendiri memang punya seni tersendiri, menulis sendiri punya ritmenya sendiri. Ada banyak penulis yang entah kenapa ada saja kata-kata yang membuat kita tergerak darinya, membuat kita terhenyak berhenti dari putarnya bumi untuk sementara. Kemudian akan kita rasakan bahwa kita berada antara ruang kosong. Ruang bertiga saja, antara kita, tulisan dan Allah semata. Entah kenapa. Read more…
Menemukan Kembali Idola Kita
Segala puji bagi Allah yang maha segala, maha memberi hidayah, maha penuntun hati ini. Yang dengan menyebut namaNya kita saling meminta. Yang dengan menyebut namaNya kita memohonn supaya dada-dada kita dipenuhi dengan kecintaan kepada akhirat. Untuk akhirat saja.
Kita semua sudah faham tentang Muhammad Al Fatih. Seorang panglima perang yang berhasil menaklukkan konstantinopel dengan begitu gagahnya.
Rosulullah SAW sudah mengabarkan sebelumnya, bahwa yang bisa menaklukkan konstantinopel panglimanya adalah paglima terbaik. Prajuritnya adalah prajurit terbaik. Dan pada saat itu moment terbaik diambil oleh Muhammad Al Fatih. Sang penakluk konstantinopel. Setelah sebelumnya banyak pasukan sebelum periode beliau berusaha meraih keridhaan Allah menjadi panglima terbaik.
Kita juga sudah tahu betul cerita tentang Bilal. Siapa itu Bilal? Budak yang dengan gagahnya mengucap kata Ahad. Dan berani ‘menjual’ raga dan dirinya untuk keyakinannya. Read more…

Ikut Berkontribusi